Kisah Mualaf Australia (3): Berharap Mati Syahid

image

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Tahun 2008, keyakinan Steven untuk memeluk Islam kian tinggi. Sayang, ia mengalami kesulitan untuk menemukan seorang Muslim yang dapat membimbingnya memeluk Islam.

Akhirnya, ia mendatangi sebuah masjid. "Saat itu, aku bertanya apakah masjid memiliki salinan Quran? Karena pada tahap ini aku butuh seseorang untuk membantu," ujarnya.

Setahun kemudian, pada 2009, Steven harus kembali Sydney untuk menjahit pakaian. Saat itulah ia bertemu Samir, seorang penjahit yang beragama Islam. Ia sempat mengira Samir seorang Kristen lantaran tidak memiliki janggut.
Setelah berinteraksi dengan Samir, Steven mulai shalat. Ia hanya mengandalkan internet untuk mengunduh panduan shalat. Ia juga berhenti mengkonsumsi alkohol dan daging babi. "Aku pernah dikirimkan makananan oleh Samir. Aku bertanya padanya, apakah ini halal? Samir pun mengiyakan."

Tak lama, Steven pun memutuskan memeluk Islam. Ia dibimbing oleh adik ipar Samir. "Akhirnya, aku menjadi seorang Muslim. Setelah ini, aku ingin mati syahid," harapnya.

Keputusan Steven memeluk Islam disambut positif oleh keluarga. Ibunya bahkan bertanya dengan santun soal keyakinan barunya. "Ia menerima dengan terbuka terkait alasanku memeluk Islam. Sementara ayah, tidak berkomentar banyak. Baginya, kondisiku baik-baik saja sudah lebih dari cukup," paparnya.

Namun, penolakan datang dari sejumlah kerabat dekat. Sepupunya bahkan enggan berbicara dengannya. Namun, kemantapan hati Steven membuatnya mudah untuk beradaptasi. "Aku tidak khawatir dengan apa yang dipikirkan orang. Aku hanya peduli pada Allah SWT," tegasnya.

Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Agung Sasongko

0 Response to "Kisah Mualaf Australia (3): Berharap Mati Syahid"

Post a Comment