Mohammed Chechev, Si Indian Tzotzil yang Bangga Menjadi Muslim

image

REPUBLIKA.CO.ID, SAN CRISTOBAL - Dibesarkan sebagai penganut Kristen, Manuel Gomez, yang merupakan keturunan Indian Tzotzil, etnis terhitung minoritas di Mesksiko.

Status minoritasnya kian menjadi saat Manuel Gomez memutuskan untuk memeluk Islam.

"Saya Muslim, Saya akhirnya tahu kebenaran. Saya shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji," ungkap Gomez, yang selanjutnya berganti nama menjadi Mohammed Chechev.

Dia menetap di Chiapas, sebuah kota yang penduduknya beragama Kristen Protestan. Di kota itu, ia berbagi atap bersama 19 warga Chiapas. Ia bekerja menjual sayuran.

Menurut antropolog Gaspar Morquecho, ada semacam tren baru dikalangan keturunan Maya ini. Semasa penjajahan Spanyol, sekitar 300.000 jiwa populasi Indian Tzotzil terpaksa memeluk Katolik pada abad ke-16. Lalu di masa kemerdekaan, kedatangan komunitas Marabutin dari Spanyol membuat sebagian kecil komunitas itu menjadi Muslim.

"Memang jumlahnya tidak banyak," kata Gaspar seperti dikutip AFP, Jum'at (4/11).

Mohammed memiliki keluarga kecil. Ia mempunyai istri bernama Juana (berganti nama menjadi Noora) dan anak angkatnya Pascuala (berganti nama menjadi Sharifa). Noora adalah putri dari kepala adat berlatar belakang Protestan yang diusir dari San Juan Chamula, kota terdekat dengan mayoritas penduduk beragama katolik.

"Di Chamula, tidak beragama Katolik sebuah kejahatan. Mereka akan marah saat tahu ada warga Chamula yang beragama Protestan, tidak minum alkohol,dan menjadi pebisnis sukses," kata Susana Hernandez, warga lokal San Cristobal.

Mohammed lalu mengikuti jejak seorang pemimpin adat, Domingo Lopes, seorang pendeta Advent yang selanjutnya memeluk Islam. Menurut catatan sejarah, Islam diperkenalkan oleh komunitas Marabutin yang bermigrasi ke Meksiko setelah terusir dari Spanyol pada tahun 1993. Komunitas Marabutin merupakan keturunan dari kekalifahan Islam di Spanyol.

Beberapa langkah dari rumah Chechev, terlihat bangunan sebuah madrasah, dan Masjid. Bangunan-bangunan itu merupakan sumbangan dari Kelompok Marabutin.

Mohammed yang berbicara dialek Tzotzil tidak dapat membaca atau menulis dalam bahasa Spanyol. Namun, ia akhirnya fasih belajar doa-doa dalam bahasa Arab hanya dalam beberapa bulan.

"Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis.  Saya tidak dapat membaca, tapi saya bisa melafalkan ayat suci Alquran. Ini sebuah keajaiban," ujarnya.

Mohammed paham soal hadits Nabi, terutama saat ia pergi haji tahun 1998, dengan bantuan mubaglih dari komunitas Marabutin, Amir Mustapha (Aureliano). "Aureliano mengatakan kepada saya, jika kita seorang Muslim,  kami harus mengunjungi rumah Allah. Di sana, kami berpakaian putih lalu  ada yang berkulit putih, hitam, atau cokelat, tapi itu tidak masalah. Kami semua sama, "katanya.

"Ketika saya pergi ke sana, saya merasa bangga menjadi Islam," ungkapnya terharu.

Meksiko adalah negara dengan  83 persen penduduknya memeluk agama Katolik. Tetapi di negara bagian Chiapas, dengan populasi sekitar 4,5 juta jiwa, Katolik merupakan minoritas. Aurelanio Perez, seorang Spanyol yang beralih menjadi Muslim dikenal sebagai Amir Mustapha, mendirikan komunitas Marabutin di Chiapas. Ia pulalah yang mengeliatkan syiar Islam dikalangan Indian Tzotzils.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari

Reporter: Agung Sasongko/AFP

0 Response to "Mohammed Chechev, Si Indian Tzotzil yang Bangga Menjadi Muslim"

Post a Comment